Fiqih versus Tasawwuf I

Al Hallaj

Al Hallaj

Pada tataran wacana, antara fiqih dan tasawwuf terdapat ketegangan laten. Di satu pihak, tasawwuf mengkritisi fiqih yang –setelah tercanggihkan sedemikian kompleks– cenderung bernuansa teknis dan kering. Di pihak lain, fiqih tak henti-hentinya mewaspadai tasawwuf yang dalam standar elaborasi fiqih dianggap terlalu spekulatif, bahkan kadang dituding “berbahaya bagi orang awam”. Sepanjang sejarah, tidak jarang ketegangan itu membuahkan peristiwa-peristiwa radikal. Yang paling dramatis dan tragis diantaranya adalah dihukum matinya Al Hallaj “berdasarkan fatwa para ulama fiqih”.

Imam Abu Hamid Al Ghozzali dan Imam Junaid Al Baghdadi berupaya meredakan ketegangan itu dengan formula-formula “jalan tengah”, misalnya: “Barangsiapa beramal dengan syari’at tanpa (memperhatikan) haqiqat akan menjadi fasiq, dan barangsiapa beramal dengan haqiqat tanpa (berpegang pada) syari’at alan menjadi zindiq (menyeleweng dari agama tanpa menyadarinya)”. Tapi ketegangan itu tak pernah sirna. Fiqih dan Tasawwuf laksana sepasang tesa dan antitesa yang terus-menerus berdialektika, bahkan dalam laku sehari-hari para pengampu agama.

Ketika mukim di Mesir, Gus Dur yang sekamar dengan Gus Mus ditamui seorang teman dari Aceh yang sangat fiqih-minded dan kurang respek terhadap tasawwuf –jadi bukan Kiyai Syukri Zarkasi sebagaimana versi populer dari kisah ini, dan mengenai hal ini saya memperoleh konfirmasi langsung dari Gus Dur. Lazimnya adab tuan rumah, Gus Dur menyiapkan minuman untuk disuguhkan. Tapi, dalam keterbatasan, ia tak menemukan lap untuk mengeringkan gelas. Maka ia membuka lemari dan memungut sepotong celana dalam milik Gus Mus yang ia tahu baru dibeli dan belum sempat dipakai. Didepan hidung tamunya, Gus Dur melap gelas dengan celana dalam itu.

Hingga pamitan, si tamu sama sekali tak menyentuh minuman yang disuguhkan, walaupun tuan rumah berkali-kali mempersilahkan. Ia terpaku pada wujud lahiriah celana dalam, tanpa memperhitungkan hakikat kebaruannya.

9 thoughts on “Fiqih versus Tasawwuf I”

  1. Alfoe says:

    he…he….bener-bener Fiqh-Minded tamunya, sampai sebegitunya!

  2. Anas Kurniawan says:

    hmm.. bukankah kita di minta utk mengambil keputusan dari apa yg di lihat. sedang apa yg ada di sebalik itu kita serahkan pada Allah. pernah seorang sahabat pada saat berperang. pada saat sampai di tempat yg ingin di perangi orang kafir udah pada kabur karena tahu mau di perangi, yg tinggal hanya seorang lelaki saja. dia mengucapkan kalimat sahadat dan masuk islam. tapi oelh sahabat tersebut orang tersebut tetap di bunuh. hal ini di beritakan kepada Nabi, Nabi mengatakan haram membunuh orang yg telah masuk islam, sahabat berargumen kalau orang tersebut hanya cari aman, Nabi mengatakan apakah kamu tahu apa yg ada dalam hati orang itu. kita hanya melihat yg terlihat sedangkan yg ada di balik itu biar Allah yg memutuskan. Kalau anda melihat di suguhi minuman yg untuk mengelap pakai celana dalam. tentu saja secara yg terlihat di lecehkan entah baru atau lama. ini tdk ada hubungannya dengan fiqih minded atau bukan. ini masalah sopan santun dan penghargaan diri terhadap orang.

    1. bromocorah says:

      ah biasa aja lah kang, yang penting itu ya inget kalo tuan rumah lebih tau tentang bagaimana menghadapi tamunya. buat motivasi dan hiburan aja kang :)

  3. luqman kang says:

    mestix ada keterangan tambahan apakah beliau berdua juga diperlihatkn minum dari gelas lainx yg diperlakukan sama.. baru bisa menilai….?

  4. zankdjyes says:

    hehehehe,,,,, mantab,,,

  5. PURWONO says:

    begitulah orang fikih…kadang2 lucu… tapi tetap penting juga lho fikih itu…

  6. semprul says:

    Dua-duanya tidak sopan (maaf). Satunya ngelap pakai celana dalam di depan tamu, dan satunya ga mau minum suguhan dari tuan rumah. Tapi dua-duanya bisa saling menahan diri untuk ngomong, satunya ga ngomong kalau ga punya lap dan satunya ga tanya kenapa lap-nya pakai celana dalam.

  7. A.W. says:

    Saya pernah membaca kisah yang serupa dari biografi Pak Soekarno

  8. wong wongan says:

    Jangan kaku hidup itu mas. Sekali kali bercanda. sepertinya sampeyan juga fiqih minded

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *