Fiqih versus Tasawuf II

Ma’rifat adalah pengalaman esoterik yang tak dapat diverifikasi secara obyektif. Sepenuhnya merupakan urusan Allah dengan yang bersangkutan –ingat hadits tentang hakikat ikhlas yang diriwayatkan dengan ijazah musalsal oleh Kyai Mustofa Bisri.

Kekhawatiran para pengampu fiqih bahwa tasawwuf “berpotensi menyesatkan orang awam” memang telah dilunakkan oleh berkembangnya tradisi thoriqoh. Doktrin mursyid-murid berfungsi sebagai semacam “jaring pengaman” bagi orang awam yang ingin mengecap hakikat atau sekedar merasakan kehangatan spiritual dari pengamalan agama. Tempuhan menuju hakikat pun dilembagakan dalam metode-metode disiplin tertentu sehingga relatif lebih bisa dikontrol dan diverifikasi “kehalalannya” oleh kacamata fiqih. Tapi masih cukup banyak kerawanan yang tersisa sehingga para pengampu fiqih pun tak mau melepaskan kewaspadaan.

Sebagai model “tasawwuf populer”, thoriqoh tak terhindarkan dari “kontaminasi” budaya populer”, yaitu ekspresi budaya yang oleh William R. Storey (1993) disebut sebagai “inferior kind of work” (karya yang rendah mutunya), yang cenderung lebih menuruti selera kebanyakan orang. Lumrahnya, tasawwuf hakiki bukanlah perkara enteng bagi orang awam. Bahkan hanya khowaashshul khowaashsh (orang-orang yang paling istimewa diantara yang istimewa) yang benar-benar mampu melaksanakannya. Orang awam cenderung lebih tertarik pada “faedah-faedah instant” dari tasawwuf, berupa kehangatan emosional, “romantisme” spiritual, dan barokah obyek-obyek (benda pusaka, misalnya) atau orang-orang keramat yang diharapkan lebih mendekatkan mereka kepada kemudahan-kemudahan hidup sehari-hari. Tidak jarang –terutama saat keadaan penghidupan secara umum terasa sulit– masyarakat mensugesti diri sendiri dengan keyakinan akan kekeramatan obyek-obyek (atau orang-orang) tertentu untuk dijadikan tujuan ngalap berkah. Kiyai-kiyai penjaga syari’at senantiasa mengkritisi fenomena in dengan tajam sekali.

Kiyai Ma’shum, Tanggulangin, Sidoarjo, amat gembira mendapat kunjungan yang tiba-tiba dari gurunya, Kiyai Ali Ma’shum rahimahumullah. Tergopoh-gopoh Kiyai Ma’shum menyambut ke halaman.

“Maasyaa-allaaah, ‘Yaiii… entah amal baik apa yang sudah saya lakukan sehingga memperoleh karunia-karunia begitu besar hari ini…”, tergagap-gagap Kiyai Ma’shum mengungkapkan rasa syukurnya, “seharian ini saja sudah dua orang wali mendatangi rumah saya…”

Memasuki rumah sambil merangkul pundak muridnya, Mbah Ali bertanya,

“Dua wali itu siapa saja?”

“Lha ya sekarang ini panjenengan… lha tadi pagi Mbah Fulan juga datang kesini…” Mbah Fulan memang amat terkenal sebagai wali yang khooriqul ‘aadah.

Mbah Ali mencibir,

“Kamu ini… asal ada orang aneh kamu anggap wali…”

3 thoughts on “Fiqih versus Tasawuf II”

  1. munir says:

    mantaf dan dalem

  2. Achmad Arief says:

    karena saya orng biasa, ya, serahkan saja pada Yang Ngatur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *