Dari Nggading Ke Krapyak

Kang Mulyadi santri dari Desa Serangan, Demak. Ia mulai mondok sejak belum sunat, mungkin sekitar umur 8 tahun. Hingga umur 25-an, belum pernah ia menjejakkan kakinya selain di Demak dan Rembang. Diluar dua tempat itu, dunia hanyalah angan-angan. Tapi Kang Mulyadi cerdas dan suka nekad lagi ta’at. Maka ayahku menyuruhnya mengantarkan uang kiriman untukku. Jelas dia belum pernah ke Krapyak sebelumnya. Hanya diberitahu agar turun di perempatan Gading, kemudian naik becak. Tapi ia berangkat tanpa sedikit pun keraguan pada dirinya, karena perintah kiyai hanya bisa dibatalkan oleh Qur’an dan Hadits!

Turun dari bis, hujan baru saja reda. Udara siang terasa agak sejuk, ditimpali bau debu basah yang khas. Kang Mulyadi senang.

“Kalau cuma satu-dua kilo, kayaknya enak jalan kaki saja nih…” pikirnya.

Jalan kaki berarti ngirit, sekaligus menghibur diri dengan “melihat-lihat kota besar” yang belum pernah diambahnya.

Sejumlah becak parkir berderet di tepi jalan. Tapi tak enak kalau cuma bertanya dan tidak naik becaknya.

Kang Mulyadi mendekati seorang pemulung yang jongkok di emperan toko. Didepan kaki pemulung itu terbeber selembar plastik dengan seonggok puntung rokok diatasnya. Ia sedang sibuk meneliti perolehannya.

“Pak!” Kang Mulyadi menepuk pundaknya, “dari sini ke Krapyak berapa kilo?”

Pemulung mendongak sesaat, lalu sibuk lagi.

“Tergantung, Mas”, katanya, “kalau tidak hujan sih bisa lima kilo. Tapi kalau hujan kayak tadi ini…. nih!”

Pemulung menyodorkan plastik puntungnya kedepan hidung Kang Mulyadi,

“Sekilo saja nggak dapat!”

3 thoughts on “Dari Nggading Ke Krapyak”

  1. Alhak Efendi says:

    lucu…lucu…lucu…

  2. Ro Ha says:

    opo takone opo jawabe

  3. Muhammad hanbali muhtar says:

    Dasar wong jogja…
    do sayah kabeh utekke..
    hahhahahahhah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *