Calon III

Kongres I ANO (Anshor Nahdlatoel Oelama), Surabaya, 1936

Watak politis dalam GP Anshor adalah tradisi. Saya bahkan menduga bahwa sejak didirikan pada 1936, GP Anshor memang dimaksudkan sebagai sayap gerakan politik NU, yaitu untuk melibatkan diri secara lebih progressif dalam pergerakan nasional memperjuangkan kemerdekaan. Selanjutnya, Anshor seolah menjadi “dogs of war”-nya NU dalam kiprah politik. Dan itu tercermin dalam semboyannya: “Anshor Pembela Ulama”!

Dengan “Kembali ke Khittah”, NU mengurai struktur monolitiknya. Batang tubuh GP Anshor pun kemudian menjadi berwarna-warni oleh kader-kader yang beragam latar belakang politiknya. Di sisi lain, Anshor telah terbukti merupakan mesin politik yang tangguh. Wajar kalau jadi rebutan. Maka pemilihan Ketua Umum dalam Kongres ke-14 yang lalu pun tak lepas dari keterlibatan kekuatan-kekuatan politik yang ada. Hampir setiap kandidiat ada parpol di belakangnya. Tekanan terhadap dinamika persaingan pun kian kompleks dan berat.

Salah seorang kandidat –sebenarnya juga salah seorang kader kesayangan saya–  tak memperoleh dukungan dari parpol tempat ia bernaung. Parpol itu telah menetapkan dukungan untuk kandidat lain yang lebih dekat dengan ketua umumnya. Tekanan yang terlampau berat akhirnya membuat kader kesayangan saya itu memutuskan untuk mengundurkan diri dari pencalonan. Ia menggelar konferensi pers.

“Ayah saya telah beristikhoroh… mengundurkan diri adalah pilihan terbaik buat saya…”, demikian pengumumannya.

Pendukung-pendukungnya kecewa. Beberapa bahkan tak sanggup menahan air mata. Edi, sahabat saya, seorang wartawan yang juga sedang meniti karir sebagai dukun, amat bersimpati dengan suasana itu. Ia mendekati sang mantan kandidat.

“Mas”, sapanya, “boleh saya kasih saran?”

“Sudahlah… ini sudah keputusan saya. Saya nggak mau memperdebatkan…”

“Bukan begitu… ini soal ayah sampeyan”.

Mantan kandidat heran.

“Memangnya kenapa?”

“Ayah sampeyan itu sebaiknya jangan terlalu sering istikhoroh… nggak baik…”

One thought on “Calon III”

  1. Luthfi Emka says:

    haha, keweca banget mas malik gak ikutan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *