Bias Gender

Dalam bahasa Arab, khalayak yang heterogen dan bercampur biasa dirujuk dengan taghlib (mengaprahkan), yakni menyebut segmen yang paling dominan dalam campuran itu. Dalam Al Quran, jika disebut “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu…” maka yang dimaksud adalah semua orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, meskipun lafadh (kata) yang dipergunakan hanya lafadh mudzakkar (bentuk laki-laki) saja. Maka kumpulan kaum mukmin laki-laki dan perempuan cukup dirujuk dengan “ayyuhal mukminuun” tanpa tambahan “wal mukminaat”. Ini cuma semantik, tidak harus –dan tidak ada gunanya– dikeluhkan sebagai “ekspresi bias gender”.

Di Indonesia, sementara itu, berkembang tradisi yang berbeda. “Ibu-ibu” tak pernah ketinggalan saat disebut “Bapak-bapak”. “Wahai pemuda-pemudi”. “Para santriwan dan santriwati”. Dan seterusnya.

Malam Sabtu, 7 Januari 2011, pendopo kabupaten Sidoarjo. PP GP Ansor menggelar istighotsah menjelang Kongres ke-14. Bebagai jama’ah majlis ta’lim sengaja diundang. Maka, lebih separoh dari yang hadir adalah kaum wanita. Demi menjamin estetika acara, seorang Master of Ceremony profesional diminta memandu.

Syukurlah, walaupun bukan anggota Ansor, ternyata MC itu cukup fasih juga,

“…Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo yang kami hormati; Ketua Umum PBNU, Profesor Doktor Kiyai Haji Said Aqil Siroj yang kami muliakan; Para kiyai, para alim-ulama; hadirin wal hadirat, nahdliyyin wal nahdliyyat, anshoriyyin WAL ANSORIYYAT…”

One thought on “Bias Gender”

  1. Aqil says:

    abshoriyyin saja KELEEEUUUUSSS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *