Banser Standar

Perhelatan akbar setakat muktamar menuntut pengorganisasian yang solid dan berkelas, terlebih dalam hal keamanan. Kehadiran Presiden pada upacara pembukaan tidak akan mentolerir secelah kecil pun kebocoran. Untuk itu, Panitia Muktamar NU ke-28 (Yogyakarta, 1989) meminjam seorang tentara sungguhan untuk mengomandani pasukan Banser pilihan yang direkrut dari segala penjuru Ansor.

Kapten Husen, tentara sungguhan itu, tak pelak lagi menerapkan standar tentara sungguhan kepada pasukan “tentara wannabe” itu. Sejak seminggu sebelum Muktamar dimulai, ia telah mewajibkan seluruh anggota pasukan untuk melapor dan mengikuti program pelatihan akhir yang intensif. Setiap habis shubuh, pasukan itu diapelkan. Pagi itu, banser-banser yang masih terlena oleh kopi panas suguhan tuan rumah terpaksa meninggalkan obrolan ngalor-ngidul mereka dan segera berkumpul di halaman Pondok Krapyak atas seruan Kapten Husen.

“Hormaaaat…Grakkk!” Kang Kapten memberi aba-aba komandan, lalu menginspeksi anggota-anggotanya.

Didepan seorang anggota, Komandan berhenti dan membentak marah,

“Hormat kok pakai tangan kiri?!”

Sambil pringas-pringis, si Banser memperlihatkan tangan kanannya.

“Rokoknya masih, Kang…”

Sebatang rokok menjelang puntung mengepul di sela-sela jarinya…

4 thoughts on “Banser Standar”

  1. Wajdi Ahmad Mustofa says:

    hehe… tentara kerepotan!

  2. Muhlisin Erce says:

    Kapten Husen : “Pindah rokoknya ke tangan kiri!!!!”

  3. zen says:

    hahaha…
    Banser kebangetan…

  4. Fonny says:

    Wah crita khas Terong Gosong xixixi.
    Gus, potonya itu di dkt rmh saya di Lamongan nggih ?
    Monggo mampir kl tindak mriku.
    #GagalFokus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *