Banser K.O.

Pimpinan Cabang yang baru saja terpilih menginginkan upacara pelantikan yang spektakuler. Kesanggupan Ketua Umum untuk hadir dan melantik sendiri belumlah cukup. Prosesi upacara itu sendiri haruslah istimewa.  Maka disewalah sebuah gedung yang biasa digunakan untuk pesta perkawinan. Dan acara disusun sebagai berikut:

Sesudah rangkaian yang lazim, mulai dari pembacaan ayat-ayat suci Al Quran, lagu Indonesia Raya, Mars GP Anshor sampai dengan sambutan-sambutan remeh-temeh, pelantikan resmi akan didahului dengan penancapan tiga petaka suci diatas panggung, yaitu bendera Anshor, bendera NU dan Sang Saka Merah Putih. Satu regu Banser akan berbaris mengiringkan tiga orang petugas pembawa bendera, masuk kedalam ruang upacara, langsung menuju panggung untuk menyerahkannya kepada Ketua Umum yang akan menancapkan bendera-bendera itu pada rak bendera yang sudah dipersiapkan.

Maka terjadilah.  Tiga orang petugas membentuk mata panah didepan. Yang tengah, pembawa Sang Saka, menjadi pucuknya. Mereka masing-masing memegang tiang bendera dengan kedua tangan didepan dada dan menggunakan perut untuk menahan pangkal tiangnya. Sungguh gagah dan khidmat. Suara sepatu-sepatu para banser itu begitu rampak sejak melangkah dari halaman gedung,

“Prok! Prok! Prok! Prok!”

Pak Bupati manggut-manggut, tapi Ketua Umum kelihatan tegang. Ia hapal betul urusan banser yang model beginian. Wajahnya jadi penuh kekhawatiran.

“Sudah mantap-mantap begini, jangan-jangan ada apa-apa nanti…”, pikirnya.

Ruangan hening. Suara sepatu banser menguasai.

Tiba-tiba,

“Duakkk!!”

“Oughghgh…”

Yang duduk dekat pintu ribut. Sebagian tergopoh-gopoh bangkit menolong banser yang terkapar.

Rupa-rupanya, ujung atas tiang bendera yang dibawanya nyangkut di kusen pintu….

3 thoughts on “Banser K.O.”

  1. dikdik sumedang says:

    mantapppppp/…………..

  2. zen says:

    saking semangatnya,
    hehe…

  3. eko oke says:

    ono ono wae sampeyan……….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *