Yang Menunggu di Sorga

Kyai Ali Ma'shum

Kyai Ali Ma’shum

Mbah Kyai Ali Ma’shum rahimahullah gemar dipijat. Beliau kerap kali memanggil santri untuk memijat beliau di waktu senggang.

Mbah Ali lebih menyukai pijatan yang kuat. Pernah suatu malam saya dipanggil untuk memijat, kentara sekali beliau merasa kurang nyaman –waktu itu saya masih anak kelas 2 SMP berbadan kerempeng. Baru sebentar saya memijat, beliau sudah minta ganti acara,

“Digejlugi wae, Cung!” Maksudnya, saya disuruh memukul-mukul kaki beliau dengan kepalan tangan. Saya taat. Tapi itu pun tampaknya tidak memuaskan.

“Wis. Idak-idak wae!” Saya disuruh menginjak-injak kaki beliau. Sama saja. Berat badan saya yang cuma sekitar 35 kilo tak ada artinya.

“Sudah! Sudah! Sana panggilkan Karyono!”

Karyono (almarhum) memang paling disukai, karena tenaganya kuat. Sungguh sering ia dipanggil, hampir tiap hari. Dan setiap kali memijat, tidak pernah sebentar.

Suatu kali sehabis memijat Mbah Ali, Karyono kembali ke gothakan dengan muka capek,

“Aku nanti enaknya masuk sorga apa enggak ya…?”

Saya heran,

“Memangnya kenapa, Kar?

“Jangan-jangan disana nanti ketemu Mbah Ali terus disuruh mijet lagi!”

Mudah-mudahan Karyono mendapat tempat di sorga dan bertemu Mbah Ali dan orang-orang sholih lainnya dan bertemu kita semua… al Fatihah…

4 thoughts on “Yang Menunggu di Sorga”

  1. hanif muqorobin says:

    amiiinnn ya ALLAH

  2. Misbahoel Oeloem says:

    pak Karyono buka praktik di surga?

  3. widi says:

    hehehehe….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *