Tugas Timur Pradopo

timur-pradopo

Kisah-kisah dan ungkapan-ungkapan dibawah ini tidak dimaksudkan sebagai olok-olok, tapi sekedar menggambarkan keadaan yang menjadi tugas Timur Paradopo untuk mengubahnya.

Yahya Cholil Staquf:

Keturunan Orang Baik-Baik

Pada suatu hari, seorang janda tua anggota jama’ah pengajian rutin “Selasanan” mendatangi ayah saya dengan menggelandang anak lelaki semata wayangnya.

“Ini lho, Mbah ‘Yai, anak saya…” ibu tua itu mengadu, “mbok tolong dinasehati…. Sudah saya omongi bolak-balik tak mau mendengar….Dia ini kok kepingin ‘ndaftar jadi pulisi itu bagaimana…?”

Lalu ia mengalihkan matanya yang berkaca-kaca kepada anaknya,

“Jangan ya, Naak…,” ratapnya, “aku ini ibumu…. aku menginginkan kebaikanmu…. Bapakmu orang baik-baik… Embahmu orang baik-baik… kamu kok mau jadi pulisiii…. Yaa Allah Gustiii….!”

Sofian J. Anom:

Tiga Polisi Yang Baik

Saat ngobrol-ngobrol santai dengan para wartawan di rumahnya, Ciganjur, Gus Dur melontarkan lelucon soal polisi. Lelucon yang sebenarnya juga kritikan itu dilontarkannya menjawab pertanyaan wartawan perihal moralitas polisi yang kian banyak dipertanyakan.

“Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur,” selorohnya.

dikutip dari Anekdot Gus Dur di www.gusdur.net

Yahya Cholil Staquf:

Menjengkelkan

Rombongan kyai Rembang dalam satu mobil melewati jalanan yang banyak polisi tidurnya sehingga mereka sering terguncang-guncang dalam mobil itu.

Kyai Munawwar: “Tidur saja bikin jengkel begini… apalagi kalau bangun!”

Sofian J. Anom:

Pecat Saja!

Seorang konglomerat (entah apakah namanya Anggodo atau bukan) melakukan perjalanan dengan mobil limosin ditemani sopir dan seorang ajudan. Dalam perjalanan, sang konglomerat sempat tertidur hingga ia dikejutkan oleh guncangan dan suara gludak-gluduk.

“Apa itu?” tanya sang konglomerat kepada sopirnya.

“Polisi tidur, Boss,” jawab sopir.

“Oooh..,” gumam sang konglomerat kemudian tidur lagi.

Tidak lama berselang, kejadian yang sama terulang kembali.

“Apa lagi itu?” konglomerat geragapan.

“Itu, Boss.., polisi tidur juga,” jawab sopir.

“Hmmm..,” gumam sang konglomerat kemudian tidur lagi.

Tak lama kemudian, untuk ketiga kalinya, suara gludak-gluduk terdengar lagi.

“Itu polisi tidur lagi?” konglomerat jengkel.

“Iya, Boss,” jawab sopir.

Marah-marah karena tidurnya terganggu, konglomerat langsung kash perintah ajudannya,

“Lu telpon Kapolri sekarang, bilang: pecat saja polisi-polisi yang suka tidur itu!!”

Yahya Cholil Staquf:

Mbah Kyai Juned, khalifat thoriqonya Mbah Syahid, Kemadu, Rembang, amat kagum dengan terbentuknya kata “polisi”.

“Siapa, ya, yang bikin? Kok pas sekali tashrifannya: falsun… fuluusun… fulisi…

Kang Uwais Bahrul:

Semoga jadi polisi yang benar jangan menjadi seperti yang dikatakan simbah saya, karena sudah sepuh jadi kepleset menyebutnya PUNGLI-si…

3 thoughts on “Tugas Timur Pradopo”

  1. alfahmi says:

    “Lu telpon Kapolri sekarang, bilang: pecat saja polisi-polisi yang suka tidur itu!!”

    nendang! :)

  2. vananovic says:

    polisi *pol_isi* / isi full…

  3. Aqil says:

    tebak-tebakan
    Ndemit : polisi itu yang biasanya ganggu pernapasan
    Sudrun : entu bukan polisi ntapi POLUSI
    Ndemit : hmmmm, pecat saja!
    Sudrun : Siap! Wani Piro? hehehe 3$$$

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *