Suwuk Bola

Di Rembang menjelang Gestapu, ketrampilan tidaklah terlalu penting dalam bermain sepak bola. Kejadugan lebih diutamakan. Lebih-lebih apabila yang bertanding adalah kesebelasan GP Ansor melawan Pemuda Rakyat.

Waktu itu ada dukun sakti tokoh PKI namanya Mbah Suro. Dia andalan Pemuda Rakyat. Di pihak lain, GP Ansor pun punya beking yang nggegirisi, yaitu Kyai Abdul Wahab Husain. Dalam setiap “pertandingan persahabatan”, dua orang itu bertindak layaknya manajer kesebelasan masing-masing.

Sebelum bertanding, Kyai Wahab membagikan air suwukan agar diminum pemain-pemainnya. Berbekal suwukan itu, mereka bertanding dengan gagah berani. Pemuda Rakyat pun kian jeri karena tampaknya bola tak lagi terlalu penting buat anak-anak Ansor itu. Kaki lawanlah sasaran utama mereka. Wasit tak berdaya. Memegang peluit saja tak berani dia. Nyalinya terbang sejak tendangan bola yang pertama, karena ia merasa Kyai Wahab terus-terusan memelototinya.

Pertandingan terpaksa bubar sebelum waktunya karena seorang pemain Anshor menggasak tiang gawang lawan hingga roboh.

Anehnya, anak-anak Anshor itu berkemas sambil meringis-ringis menahan nyeri. Yang menggasak gawang tadi malah mengerang-erang tak bisa berdiri.

“Kok suwuknya kurang manjur, ‘Yi?” mereka mengeluh pada Kyai Wahab, “atau kami kurang syarat? Atau terlanjur banyak maksiat?”.

Kiyai Wahab nyengir,

“Lha wong tadi itu memang suwuk kendel (biar berani) kok… bukan suwuk kebal…”

One thought on “Suwuk Bola”

  1. Farid says:

    Amet sewu nderek share yi…..he

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *