Sang Pendekar (Bagian Pertama dari Trilogi)

Sang Pendekar

Dibelakang pasar Syari’ (jalan) Al Hajj, didekat qubri (fly over) Misfalah, imarah (bangunan) bertingkat empat itu diinduksemangi sebuah keluarga mukimin asal Pakistan. Rabb Nawaz, si kepala keluarga, lelaki paroh baya dari Karachi yang sudah beranak-pinak di Makkah. Ia menyewa imarah itu seluruhnya dari seorang Arab, kemudian menyewakan kembali apartemen-apartemen dan kamar-kamarnya secara eceran. Bangunannya sudah tua dan arsitekturnya ngawur. Tapi Mahrus, sepupuku, sengaja memilihkannya untukku sebagai tempat kos.

“Disini lebih aman”, katanya, “tak pernah digerebeg Jawazat (polisi imigrasi)”.

Ia sendiri rela pindah dari Rubath Jawa (sebuah bangunan yang diwakafkan untuk pemondokan santri-santri asal Indonesia) yang gratis, demi menemaniku tinggal di tempat kos itu.

Kami memperoleh salah satu dari tiga kamar di lantai dasar dengan harga sewa 250 SR per bulan. Satu kamar lainnya kosong, dan satunya lagi disewa oleh tiga orang pekerja kasar asal Pakistan juga. Lantai dua disewa seluruhnya oleh sebuah keluarga mukimin Pakistan lainnya, sedang Rabb Nawaz beserta isteri dan kelima anaknya (empat anak gadis dan bungsu lelaki) memilih lantai tiga. Lantai empat yang nyaris kosong ditempati Abdul Aziz, adik ipar Rabb Nawaz, seorang pemuda tanggung (18-an) yang ganteng tapi agak tolol.

Jadi, cuma kami berdua di imarah itu yang bukan orang Pakistan. Tapi teman-teman dari Rubath Jawa sering mampir, terutama Gus Saiful Akhyar bin Kiyai Mizan Asrori yang asal Rembang juga. Hampir setiap pagi sepulang jama’ah shubuh dan ngaji di Masjidil Haram, ia nongkrong dulu di tempat kami sampai agak siang.

Masalah kami adalah tiga orang pekerja kasar itu. Badan mereka besar-besar dan hampir selalu kelihatan kotor dan tidak pernah mengurus berewok mereka. Tampang mereka membuat kami jerih. Padahal hanya ada satu kamar mandi di lantai dasar itu. Tentu tidak menguntungkan buat kami jika suatu saat harus berebut dengan mereka.

Entah siapa yang punya ide pertama kali, kami bertiga –aku, Mahrus dan Akhyar– merancang akal-akalan. Setiap pagi kami pura-pura latihan kung fu. Kami manfaatkan lobby yang cukup luas di bagian tengah lantai dasar itu. Mahrus dan Ahyar berlagak pencak, sedangkan aku memerankan suhu. Kami bergerak sekenanya sambil teriak-teriak seolah-olah itu kung fu sungguhan. Pekerja-pekerja kasar itu sudah tentu terheran-heran.

“Sedang ngapain kalian?” mereka bertanya.

“Ah, cuma cari keringat”, aku menjawab dengan gaya yang anggun, seperti seorang pendekar sakti yang rendah hati.

Selanjutnya adalah tugas Mahrus untuk membual. Ia paling lama mukimnya dan punya paling banyak kosa kata omong kosong untuk meyakinkan Pakistan-pakistan itu.

Beberapa hari sesudah kami mulai ber-kung fu, ketika aku sendirian siang-siang, ada yang mengetuk pintu. Aku membukanya dan tercekat mendapati salah seorang tetangga kamarku berdiri didepanku. Aku mencemaskan nasibku dan mati-matian berusaha menutupi rona ketakutan dari wajahku.

“Assalaamu’alaikum”.

“‘Alaikumussalaam… ada apa…?” aku menelan ludah.

“Ini…” ia mengulurkan dua buah kantong plastik. Satu berisi bawang bombai, satunya lagi penuh jeruk nipis, “untuk kalian…”

Aku terperangah,

“Apa ini?”

“Hadiah… hadiah…” ia berkata dengan roman yang ramah sekali.

Belum lagi aku mencerna apa yang terjadi, ia sudah berbalik masuk ke kamarnya sendiri.

Sejak saat itu, Pakistan-pakistan tetangga kamar itu tak pernah memperlihatkan diri didepan kami. Kalau mereka membuka pintu dan mendapati kami ada di lobby, mereka buru-buru menutupnya kembali. Kalau mereka hendak ke kamar mandi kemudian kami juga melangkah menuju tempat yang sama, mereka langsung membatalkan niat dan memilih menunggu kami selesai lebih dahulu.

Sebulan kemudian, mereka bahkan lenyap sama sekali. Kamar mereka kosong.

“Teman-temanmu itu kemana?” aku bertanya kepada Abdul Aziz.

Ia mengangkat bahu,

“Orang-orang gila!” katanya, disusul gerutuan panjang-pendek, “mereka bilang mau sewa enam bulan, baru sebulan sudah kabur! Katanya disini tidak aman. Tidak aman apanya? Dasar orang goblok! Ini tempat paling aman diseluruh Makkah! Patroli Jawazat jarang masuk gang sini. Yang tinggal di rumah ini juga orang-orang baik semua… Goblok.. goblok…!”

Dalam hati aku tertawa girang sekali: Abdul Aziz ternyata bukan satu-satunya orang tolol dari Pakistan. Selama hampir setahun selanjutnya, lantai dasar itu kami kuasai sendiri.

One thought on “Sang Pendekar (Bagian Pertama dari Trilogi)”

  1. Subbhan a says:

    Bwahahahaaaaa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *