Orang NU di Washington DC

“Di sini ada orang NU yang sudah mukim lama lho”, kata Dini, temanku yang waktu itu kerja di VoA (Voice of America).

“Masa?”

“Bener! Namanya Mas Agus. Aku kenalin ya!”

Sore harinya, telepon kamar hotel berdering. Dini.

“Aku sudah di lobby nih. Sama Mas Agus”.

Begitu keluar dari lift, seorang laki-laki berperawakan agak kecil berkopiyah bundar warna hitam dan baju koko warna putih tergopoh-gopoh menyambutku. Dengan penuh semangat ia raih tanganku dan ia ciumi bolak-balik sehingga aku tersipu-sipu.

Mas Agus asli Malang, sudah 17 tahun mukim di Washington. Anak perempuannya, yang lahir di Amerika, kini sudah perawan. Ia menghidupi keluarganya dengan sebuah “toko kelontong berjalan”, yaitu sebuah mobil yang ia isi dengan berbagai kebutuhan rumah tangga sehari-hari untuk dijajakan secara berkeliling di permukiman-permukiman. Toh ia berhasil mewujudkan sebuah rumah yang mapan –sedikit lebih bagus daripada rumah dinas anggota DPRRI di Kalibata– untuk keluarganya. Di rumahnya itu, di kawasan Virginia, ia menjamuku dengan macam-macam hidangan kampung halaman seperti orang hajatan, jauh melebihi kapasitas perut dan nafsuku walau sedang amat rindu masakan rumah. Diam-diam aku merasa sayang dengan makanan berlebih itu. “Kalau di rumah, begini ini bisa jadi rejekinya santri”, pikirku.

Mengantarkanku balik hingga ke pintu lobby hotel, Mas Agus menyempatkan turun dari mobil untuk –lagi-lagi– menciumi tanganku. Dengan hati penuh syukur bahkan berbunga-bunga, kuuntapkan mobil Mas Agus hingga hilang dari pandangan.

Berjalan menuju lift, aku mengangguk kepada concierge yang sedari tadi memperhatikanku.

Excuse me“, ia menyapa. Langkahku terhenti.

Yes?”

Are you a prince or somethin’?” (Sampeyan ini anak raja ya?)

Tertegun beberapa detik, aku lalu menjawab dengan mantap dan penuh wibawa,

“Yes”.

Tanpa terasa, jalanku berubah gaya.

5 thoughts on “Orang NU di Washington DC”

  1. sadid says:

    Ya ya ya ya

  2. Lintang Kemukus says:

    sendiko dowoh, panjenenganipun putro ratu ingkang jejuluk “singo de mejo” = “LION ON THE TABLE”

  3. albab says:

    mantaaap

  4. abby says:

    tak kira wong amrik asli…

  5. imron mohamnad says:

    Yes. i’m a prince of terong gosong. <>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *