Klasifikasi Martabat (Bukan Martabak)


Pondok Pesantren Tebuireng dibawah asuhan —pada waktu itu— K.H. Yusuf Hasyim rahimahullah, yang santrinya ribuan, mendapat kunjungan Menristek/Kepala BPPT —waktu itu— Prof. Dr. Fuad Hassan. Berkeliling mengamati kompleks bangunan pesantren dan memperoleh informasi tentang data santri membuat Pak Menteri amat terkesan. Dalam benak beliau terbentang begitu banyak kemungkinan bagi pengembangan pesantren Tebuireng khususnya dan dunia pesantren umumnya.

“Soal kecil dan sederhana saja”, beliau mencontohkan, “sanitasi! Sistem konstruksi untuk sanitasi di pesantren ini kalau dirancang ulang bisa membawa manfaat luar biasa. Bayangkan: dari kotoran sekian ribu orang, berapa besar energi biogas yang bisa dihasilkan? Belum lagi ampasnya yang punya nilai ekonomi tinggi, karena bisa dijual sebagai pupuk organik!”

Pak Ud —panggilan akrab untuk Kyai Yusuf Hasyim— mengernyitkan dahi.

“Kalau yang terakhir itu agak repot, Pak Menteri”, beliau menanggapi.

“Repot gimana?”

“Klasifikasi produknya itu lho! Kan susah memisahkan kotorannya kyai dari kotorannya santri… padahal martabatnya beda!”

2 thoughts on “Klasifikasi Martabat (Bukan Martabak)”

  1. Shofi Elfach says:

    xixixixixix…

  2. leo says:

    Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul ” Klasifikasi Martabat (Bukan Martabak) ” .
    Saya juga mempunyai jurnal yang sejenis dan mungkin anda minati. Anda dapat mengunjungi di Explore Indonesia by Universitas Gunadarma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *