Ketua yang Tidak Adil

Gus Mutafahhil (bukan nama sebenarnya) menjadi Ketua Cabang NU di sebuah kabupaten. Belakangan MWC-MWC banyak menggerutu karena, sebagai Ketua Cabang, Gus Mutafahhil telah bertindak tidak adil. Setiap minggu tanpa pernah absen, ia selalu menghadiri acara di MWC Kecamatan Anu. Padahal, Kecamatan Anu itu jauh jaraknya dari ibu kota kabupaten, tempat tinggalnya sendiri. Undangan dari MWC-MWC yang lebih dekat justru tak pernah dihadirinya, sehingga hilang semangat dan makin lama makin sepi acara. Hanya MWC Kecamatan Anu saja yang aktif luar biasa. Tiap minggu ada saja kegiatannya: lailatul ijtima’, istighotsah, konsolidasi, haul mantan rois, Harlah Ranting, puputan anaknya Katib, dan lain sebagainya. Sudah sering MWC-MWC lain memprotes, tak pernah ditanggapi.

Puncaknya, MWC-MWC selain Kecamatan Anu beramai-ramai laksana demonstrasi mengadu kepada Rois Syuriyah Cabang. Mereka menuntut agar jadwal kunjungan Ketua Tanfidziyah diatur secara merata ke semua 33 MWC yang ada. Kalau tidak dituruti, mereka mengancam mosi tidak percaya.

“Sabar dulu…”, Rois Syuriyah menenangkan, “kalau kalian menuntut jadwal rutinnya diratakan, itu sama halnya kalian menyuruhnya wayuh 33!”

“Itu ‘kan sudah jadi tanggung jawabnya!” MWC ngotot.

“Iya… tapi wayuh 33 itu ‘kan nggak boleh?”

“Jangan guyon, ‘Yi!” MWC tambah panas, menganggap Rois cuma cari-cari alasan membela Ketua, “masak perumpamaan terus disamakan hukumnya gitu!”

“Lho… ini bukan perumpamaan. Dia rutin ke MWC Anu itu kan sebenarnya nyambi gilir… Ketua MWCnya sana itu iparnya!”

One thought on “Ketua yang Tidak Adil”

  1. shampton masduqie says:

    wekekekeke…. sae… patut ditiru…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *