Kempes


1987. Pelatihan Pengembangan Manajemen Pesantren diselenggarakan oleh P3M (Perhimpunan untuk Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Hanya dua orang peserta dari Jawa Tengah: saya dan seorang santri Al Anwar, Sarang. Dua buah rumah disediakan untuk penginapan peserta laki-laki. Saya ditempatkan di rumah yang satu, santri Sarang di rumah lainnya. Sial buat saya… saya bukan saja satu-satunya orang Jawa Tengah di rumah itu, tapi juga satu-satunya ORANG JAWA! Penghuni lainnya orang Madura semua!

Saya bukannya rasis atau merendahkan suku Madura. Konon, asal-usul leluhur saya dari Madura juga. Yang menjadi nasib sial saya adalah bahwa saya tidak pernah bisa melibatkan diri dalam obrolan bersama-sama dengan teman-teman serumah itu. Jika ada dua orang saja orang Madura bersama saya, mereka serta-merta asyik bercakap sesamanya dalam bahasa Madura yang sama sekali tidak saya mengerti, dan tidak memperdulikan saya yang longa-longo seperti asbak. Bayangkan kalau itu terjadi setiap waktu istirahat selama dua minggu berturut-turut!

Baru tiga hari saja saya sudah tidak kuat. Setelah hampir satu jam terkucilkan ditengah obrolan riuh-rendah pada suatu malam, saya sengaja menguap secara demonstratif dan nyeletuk,

“Bo-abbooo… ‘dak pees-kemmpess!”

Obrolan langsung terhenti. Wajah-wajah tersinggung mematung. Salah seorang –sebut saja: Cak Sakera– yang kumisnya melintang menakutkan, bahkan melotot seolah hendak menempeleng saya!

Sudah pasti tidak akan menjadi cerita lucu Terong Gosong seandainya waktu itu saya juga naik darah lalu terjadi perkelahian. Saya cuma bangkit dari kursi ruang tamu lalu ngeloyor masuk kamar tidur. Selama sepuluh hari sesudahnya, saya benar-benar menjadi manusia terkucil di rumah itu.

Usai pelatihan, digelar acara perpisahan. Seluruh peserta, fasilitator dan panitia bersalaman satu sama lain untuk saling memaafkan salah-khilaf selama dua minggu pergaulan. Tapi Cak Sakera rupa-rupanya masih belum benar-benar lega hatinya. Ia menyalami saya dengan raut muka yang masih kelihatan kaku. Demi mengurangi kenangan buruk saya sendiri, saya berusaha bersikap lebih ramah,

“Sampeyan Madura mana?”

“Pamekasan”, singkat dan ketus.

“Oooh… saya juga punya saudara di Pamekasan lho!”

“Pamekasan mana?” raut muka dan suaranya sedikit melunak.

“Banyuanyar… Kiyai Baqir…”

Cak Sakera terkejut.

“Adaa huubungan appaa sammpiyan samaa Kiyaii Baaqir?”

“Paman. Isteri beliau itu kakaknya ibu saya”.

Cak Sakera pucat pasi seketika. Hampir-hampir kelihatan gemetar kedua kakinya.

“Adoooo…. kok ‘daak ‘laang-biilang sammpiyan?” suaranya benar-benar terdengar ketakutan.

“Lha sampeyan ndak nanya…”

“Adooo… Guuus… mohoon maa-ap sayaa, Guuus… Sayaa ‘daak taahu kaloo sammpiyan ponaakannya Yaii Baaqir… Maa-ap sayaa yaa, Guus… P’ngaapoora, Guus…” dia raih tangan saya dan dia ciumi bolak-balik seperti orang merengek-rengek. Saya sedikit bingung, tapi rasanya tidak tahan juga untuk tidak besar kepala…

2 thoughts on “Kempes”

  1. khoiruddin says:

    heran kulo gus lek tiang medunten niku mesti guyon geh mboh nopo seng dihabas mesti guyu lakak lakak….

  2. Subbhan a says:

    Wakakakaka.. Lucu bgt gus..
    Menawi wonten waktu, monggo mampir teng blog kulo gus..

    https://asubbhan.wordpress.com/daftar-artikel/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *