Join

Ini kisah yang amat terkenal sebagai cerita tutur. Dan sebagaimana lazimnya cerita tutur yang terkenal, ada beragam riwayat yang beredar sekaligus. Dua versi kisah ini pernah dituturkan di Terong Gosong, yaitu versi dari Gus Jabbar Hubbi dan versi dari saya sendiri. Dalam versi Gus Jabbar, tokoh cerita adalah Kiyai Wahab Hasbullah dan seorang santri yang tidak disebut namanya (anonim). Dalam versi saya, tokohnya Kiyai Abdul Fattah dan Gus Dur.

Perbedaan kedua jalur riwayat ini laksana perbedaan Syi’ah – Sunni. Yang dari Gus Jabbar adalah jalur ahlul bait, karena beliau (Gus Jabbar) adalah ahlu bait Tambak Beras. Sedangkan saya memperoleh riwayat dari sanad yang –meskipun bukan ahlul bait— tapi rojulnya tsiqoh (orang yang meriwayatkan dapat dipercaya), yaitu paman saya sendiri, Kiyai Mustofa Bisri, yang sudah dikenal secara mutawatir sebagai sahabat terdekat Gus Dur. Sedangkan paman saya memperoleh riwayat dari Gus Dur sendiri. Jadi, riwayat dari saya ini sanadnya muttashil. Karena dalam hal ini saya termasuk “golongan Sunni”, maka saya akan reload versi riwayat “Sunni” –tentu  tanpa menafikan “versi Syi’ah”-nya Gus Jabbar.

*   *   *

Ketika mondok di Tambak Beras, dibawah asuhan Kyai Abdul Fattah (keponakan Kiyai Wahab Hasbullah) Gus Dur sempat jadi Kepala Keamanan. Pada suatu malam Jumat, Kepala Keamanan ini malah mberot dari pondok untuk nonton bioskop. Ketika balik ke pondok, kebetulan pas mati listrik. Pondok gelap-gulita. Terlihat lamat-lamat api rokok menyala di serambi langgar. Gus Dur mendekat, yang punya rokok tak tampak wajahnya dalam gelap.

“Sak sedhotan, Kang”, kata Gus Dur, minta numpang menghisap rokok itu walau cuma satu sedotan. Rokok pun diulungkan.

Gus Dur menghisap satu sedotannya dengan sedotan yang poaanjaang dan nikmat sekali. Karena disedot panjang-panjang, bara rokok pun membesar, menerbitkan sebersit cahaya. Dengan sebersit cahaya itu, tampaklah samar-samar wajah si pemilik rokok yang ternyata… Kyai Fattah!

Gus Dur kaget dan spontan melarikan diri. Kyai Fattah mengejar dibelakangnya,

“Rokokku! Rokokku!”

4 thoughts on “Join”

  1. jet says:

    hahaha… :D

  2. dayat says:

    haha hehe hihihi

  3. Hanafi says:

    Hahahah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *