Indikator Ekonomi

Para ekonom dan politisi gemar berdebat tentang keadaan ekonomi masyarakat. Yang pro-pemerintah biasanya cenderung mengatakan baik, sedangkan oposisi menyatakan sebaliknya. Indikator-indikator yang biasanya dipergunakan untuk membenarkan kesimpulan-kesimpulan mereka adalah IHSG (Index Harga Saham Gabungan), tingkat suku bunga perbankan, cadangan devisa, nilai rupiah di pasar valuta dan berbagai macam data statistik yang rumit-rumit. Saya yakin, mustahil bagi kebanyakan orang awam untuk memahami pembicaraan mereka. Terutama karena apa yang mereka katakan biasanya tidak nyambung dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat sehari-hari.

Sekarang ini rasa-rasanya saya sudah putus asa dengan para pakar untuk mengetahui keadaan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. Maka saya sungguh menjadi gembira dan berbesar hati katika mengetahui bahwa Kyai Idris Hamid, putera Mbah Kyai Abdul Hamid rahimahullah, Pasuruan, seorang kyai pesantren, Rais Syuriyah NU, Ketua Ta’mir Masjid Agung Pasuruan sekaligus juru kunci makam ayahandanya sendiri, justru mampu membaca keadaan ekonomi masyarakat secara lebih tepat berdasarkan indikator yang jauh lebih sederhana tapi akurat.

Pada saat media massa beramai-rami menggambarkan optimisme ekonomi yang menguat berdasarkan kenaikan IHSG, stabilnya tingkat suku bunga, peningkatan cadangan devisa dan penguatan nilai rupiah, Kyai IdrisĀ  tidak setuju.

“Tidak benar itu!” kata beliau, “hari-hari ini masyarakat sedang susah!”

“Indikatornya apa, ‘Yai?”

“Kuburan ramai”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *