Gus Dur, Hanya di Terong Gosong

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Kuat Kaya

Dua orang diantara murid-murid Gus Dur, Fu Lan dan Lu Fan, adalah kawan-kawan dekat saya. Suatu kali Gus Dur ngrasani Fu Lan,

“Dia itu kuat miskin, tapi nggak kuat kaya…”

Semenjak masih miskin, Fu Lan memang tinggi gengsinya. Walaupun lapar tak mau dikasihani. Sesudah kaya, dia royal sekali. Gemar menghamburkan uang untuk dibagi-bagikan kepada orang. Saya ingatkan agar hati-hati dan pakai perhitungan strategis dalam pengeluaran, dia tak perduli.

“Bagaimana nanti saja”, katanya.

Lu Fan sebaliknya. Seorang kiyai mengeluhkan tabiat Lu Fan kepada saya,

“Bakhil sekali!” kata Pak Kiyai, “Sudah berapa lama saya jadi pendukung setianya? Tak sepeser pun ia pernah menyedekahi saya!”

Saya ketawa.

“Dia itu kuat kaya, ‘Yi”, saya membela, “pandai menyimpan kekayaan dan mengeluarkannya hanya untuk keperluan strategis saja. Kalau dia tidak menyedekahi ‘njenengan, berarti ‘njenengan tidak strategis!”

Menteri Darderdor

Ngobrol sambil makan pagi bersama Presiden, KSAD Ryamizard Ryacudu mengeluh tentang Mahfud MD, Menteri Pertahanan,

“Saya kerap geragapan setiap kali beliau melontarkan pernyataan…”

Presiden Abdurrahman Wahid tertawa,

“Dia itu memang Peluru Tidak Terkendali!”

Poligami

Gus Dur mengunjungi Kiyai Idham Cholid di kediaman beliau.

“Isteri itu satu saja, Durrahman… jangan banyak-banyak”, Pak Idham menasehati (beliau sendiri isterinya tiga).

“Bohongnya mah gampang”, Pak Idham melanjutkan, “yang susah itu nginget-nginget bohong yang kemaren…”

Doa

Padang, suatu hari di tahun 2002. Acara ceramah tunggal K.H. Abdurrahman Wahid dihadapan kader-kader PKB dan jajaran pengurus NU se Sumatera Barat ditutup dengan doa yang dipimpin oleh seorang tokoh setempat.

“Alfaatihah!” tokoh itu memulai dengan seruan, lalu disusul bacaan doanya, “Allahumma aushil tsawaaba maa qoro’naa ilaa hadlroti ruuhi Kiyai Abdurrahman Wahid…. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu..”

Takut menyinggung perasaan orang tapi nyaris tak kuat menahan tawa, saya sentuh lengan Gus Dur disebelah saya.

“Jangan kuatir”, bisik Gus Dur, “Aku masih hidup kok…”

2 thoughts on “Gus Dur, Hanya di Terong Gosong”

  1. tamam ayatullah malaka says:

    kwwwwwwwwwwwwwwwwww

  2. Anugrah Saifuri Rohman says:

    hahaha, waduh itu pembaca doanya ngawur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *