Gurunya Gus Karim

Kisah berikut ini diceritakan kepada saya oleh Kiyai Mu’adz bin Thohir bin Nawawi, Kajen, Pati:

Hadlratusy Syaikh Hasyim Asy’ari menitipkan puteranya, Abdul Karim Hasyim, yang masih kanak-kanak,  kepada Kiyai Nawawi agar dapat belajar kepada kiyai-kiyai Kajen. Baru tujuh hari tinggal di rumah Kiyai Nawawi, Gus Karim pamit boyong,

“Ngaji saya sudah khatam… katanya sudah boleh pulang…”.

Kiyai Nawawi bingung. Ia belum mulai mengajar Gus Karim sama sekali dan sepengetahuannya Gus Karim juga belum ikut mengaji kepada kiyai Kajen lainnya.

“Awakmu ngaji apa, Gus?” Kiyai Nawawi bertanya.

“Jurumiyyah”.

“Yang mengajar siapa?”

“Tidak tahu… orang tua…”, Gus Karim menggambarkan guru yang mengajarnya.

Kiyai Nawawi manggut-manggut,  menyembunyikan rasa kagetnya. Gus Karim pun dilepas kembali ke Tebuireng.

Beberapa waktu kemudian, Kiyai Hasyim tiba-tiba datang ke Kajen, membuat kelabakan semua orang. Kiyai Nawawi-lah yang dituju.

“Kenapa anakku kau pulangkan, Kang?” Kiyai Hasyim menggungat, “padahal dulu Thohir kau titipkan kepadaku juga kuterima…”

Kiyai Nawawi tak enak hati.

“Bukannya saya pulangkan, ‘Yai… tapi kayaknya Gus Karim itu sudah cukup ngajinya”.

“Lho. Cuma seminggu itu memangnya kau ajari apa?”

“Bukan saya yang ngajar, ‘Yai”.

“Lha siapa?”

“Mbah Mutamakkin…”

2 thoughts on “Gurunya Gus Karim”

  1. khol fathirius says:

    no comment hehehehe

  2. ellihsan dhoifi says:

    izin shere ya pak yai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *