Diplomasi Ketawa: Presiden Terong

Malam itu, sidang terakhir KTT OKI di Doha, Qatar, berlangsung hingga agak larut. Sekitar jam 11 malam waktu setempat baru usai. Keluar ruang sidang, Presiden Abdurrahman Wahid kelihatan capai sekali. Padahal sepuluh menit lagi upacara penutupan.

“Aku nggak kuat lagi ini”, kata Presiden, “aku mau langsung tidur saja. Biar Yahya yang nggantiin ikut penutupan!”

Semua orang melongo, tapi tak ada yang berani membantah.

Di ruang sidang saya bingung: hanya dua kursi tersedia, satu untuk Presiden, satunya lagi untuk Menteri Luar Negeri.

“Saya duduk dimana, Pak Alwi?”

“Ya di situ!” Pak Alwi Shihab menunjuk kursi Presiden.

“Itu ‘kan ada tagnya Presiden RI… kita tukeran aja deh…”, saya merengek.

“Nggak bisa! Saya Menteri Luar Negeri. Harus duduk di kursi saya sendiri!”

Saya celingak-celinguk. Para Kepala Negara sudah duduk dengan anggunnya di singgasana masing-masing. Kecut hati saya. Pantat saya cuma kelas kendil. Mana pantas ditaruh di singgasana semulia itu?

“Perintah Presiden begitu, ya harus ta’at dong!” Pak Alwi mendesak.

Upacara hendak dimulai dan tak ada waktu untuk berdebat lagi. Saya terpaksa duduk dengan pantat yang minggrang-minggring.

Dibelakang podium utama yang megah, terpasang layar tivi real time sepenuh dinding. Ditengah pidato penutupan oleh Raja Qatar, tiba-tiba tampang saya muncul di layar lebar itu! Dari shoot out, pelan-pelan mendekat sampai full-close up. Cukup lama saya dibegitukan –lebih dari tiga menit, saya kira… atau satu abad?– sehingga saya jengah luar biasa. Berusaha pasang muka serius, jadinya merengut. Maunya senyum, malah kelihatan nyengir! Sudah itu kamera pelan-pelan bergerak turun, ganti menyorot name-tag di meja saya: “President of The Republic of Indonesia”!

Saat itulah saya jadi mengerti. Rupanya Presiden sengaja merancang siasat pengamanannya sendiri. Kalau ada sniper mengincar, pasti akan bingung:

“Apakah Presiden Indonesia mlungsungi?”

7 thoughts on “Diplomasi Ketawa: Presiden Terong”

  1. m. nizar says:

    i like it… ki guyon khas pesantren tenan….

  2. luluk kd says:

    huahahaha….. top markotop!

  3. Ahmad Maruv Salim says:

    Barangkali ini isyarat Gus Dur Allah yarham, bahwa entah di tahun berapa, Gus, eh Kyai Yahya jadi presiden RI.
    Saya mendukung 100000000% !!!

  4. Ahmad Salehudin says:

    hanya satu yang bisa kukatakan: luarbiasa gus dur nih…, tentunya yang dsuruh gantiin juga luar biasa., salam tuk gus Yahya.. mantab

  5. anwar says:

    Meski mringgang mringging bokonge..lumayyyan wis nyicil tahu weruh rasane kursi Ri 1 yg skrg lg rame di rebutkan hhhhh….

  6. Subbhan a says:

    Wadowww. Gak habis2 saya ketawa gus..

    Top gus..
    Salam takzim..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *