Terlalu Panjang

Di sebuah desa santri, ada lurah baru yang kebetulan “kurang santri”. Pak Lurah nggak pernah ngaji atau mondok. Soal agama ia pelajari sendiri dari buku-buku terjemahan. Dalam sebuah acara pengajian, Pak Lurah memberi kata sambutan,

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, setiap amal harus kita kerjakan dengan ikhlas. Seperti doa yang selalu kita baca setiap shalat: INNAA SHOLATIWAA… NUSUKIWAAA….

Hadirin serentak tertawa, bertepuk tangan dan bersuit-suit. Dari barisan belakang ada yang teriak,

“Iftitah bahasa Jepang!”

Tapi teriakan itu tenggelam ditengah riuh-rendah sorakan. Pak Lurah tak mendengarnya, atau tak mengerti maksudnya. Ia teruskan saja pidatonya, hingga sampai ke dalil andalan yang telah disiapkannya,

“Kita harus ingat Firman Allah: INNAA KHOLAQNAAKUM MIN DZAKAAAARIN WA UNTSAA…

Kang Parji, yang belum lama boyong dari pondok, tidak tahan mendengarnya dan langsung berdiri terus maju kedepan,

“Interupsi, Pak Lurah!” teriaknya keras-keras, “itu tadi dzakarnya kepanjangan!”

3 thoughts on “Terlalu Panjang”

  1. ahbib habiibak says:

    mantaaab,,kejadian semacam begini memang kadang terjadi,,pejabat yg kurang pandai agamanya salah dalil.

  2. Zulaikha Miftah says:

    Di ajak pesantren kilat aja hehe

  3. Aqil says:

    wkwkwkwkwkwkwk dzakaaaaaaarnya sopo iku?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *