Sudah Sembuh

mbah-ali-2

Pagi hari sebelum masuk kuliah, saya bersama seorang sepupu menyempatkan tabarruk kepada Mbah Ali Maksum yang sedang dirawat di RS Sardjito.

“Mau kuliah, Cung?”

Nggih

Wis sarapan?”

Sampun

Tanduk! Tanduk!” (Nambah!) Mbah Ali menunjuk makanan yang disediakan rumah sakit untuk sarapan beliau. Kami bingung.

“Ayo makan!” Mbah Ali memelototi, seperti mau duko, sehingga kami ketakutan. Gemetaran kami raih makanan itu.

“Habiskan! Cepat! Awas kalau tidak!”

Takut kuwalat, kami pun menurut. Makanan habis tanpa sisa, lenyap kedalam perut kami berdua.

Tak berapa lama, dokter masuk.

“Assalamualaikum, Pak Kyai, bagaimana kabarnya?”

“Alaikum salam. Alhamdulillah sudah terasa enak”, Mbah Ali menjawab dengan sumringah.

“Sudah didhahar sarapannya?”

“Sudah. Itu…”, Mbah Ali menunjuk piring-piring dan gelas kosong, “enak sekali!”

Saya dan sepupu saya cuma menunduk tanpa berkutik. Dokter kelihatan gembira sekali,

“Wah, alhamdulillah, sudah kerso dhahar berarti sudah mau sembuh ini. Sebentar lagi boleh kondur!”

“Pulang sekarang ya, Pak Dokter!” Mbah Ali mendesak.

“Ya ya.. insyaallah…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *