Rejeki Londo


Boleh percaya boleh tidak, saya ini termasuk yang sangat bersimpati kepada nasib Pak Tifatul Sembiring. Soalnya, saya juga pernah tertimpa “musibah” yang sama seperti beliau. Hanya saja, dalam segala segi yang berkaitan dengan musibah itu, saya lebih beruntung.

Menjelang dan sesudah Pemilu 1999, banyak LSM asing beroperasi di Indonesia sebagai pengamat dan pelaksana “bantuan non-pemerintah” dari negara masing-masing. Di antara yang dari Amerika Serikat adalah NDI (National Democrat Institute) dan IRI (International Republican Institute). Selain bertanya kesana-kemari, mereka rajin memberi masukan terkait sistem Pemilu dan sistem kepartaian serta pengembangan partai-partai itu sendiri.

Sebagai anggota KPU dan pejabat partai, saya teramat sering dan cukup intens berinteraksi dengan para pekerja LSM-LSM asing itu. Banyak di antara mereka kemudian menjadi sangat akrab secara pribadi. Salah satunya adalah Mary Schwartz, personil IRI, seorang wanita kulit putih yang cuwaantik sekali, jauh lebih cantik daripada Michelle Obama.

Setahun bekerja di Indonesia, Mary tiba-tiba menghilang tanpa pamitan kepada saya. Entah kemana. Cukup lama kami hilang kontak sama sekali, sampai suatu hari IRI mengundang partai-partai untuk suatu lokakarya internasional di sebuah hotel di Jakarta. Saya datang mewakili PKB dan menunjuk Gus Badawi Basyir –waktu itu Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Jawa Tengah– untuk mendampingi saya.

Tiba di hotel itu, saya dapati Mary sudah ada di situ. Mary melihat saya datang dan serta-merta menyambut dengan wajah yang kelihatan kuwangeeen sekali! Tanpa ragu-ragu –jadi bukannya saya menahan dengan dua tangan lalu Mary yang nyodor-nyodor– saya menyalami tangannya erat-erat. Tapi rupanya Mary tidak cukup puas hanya salaman saja. Dengan penuh semangat ia julurkan muka dan ia tempelkan pipinya ke pipi saya: nyusss… lalu satunya lagi: nyusss…

Gus Badawi memandangi peristiwa itu dengan luar biasa iri. Dan ia pun menggerundel,

“Kamu ini pakai kopiyah… dasimu saja gambar masjid… kok ambung-ambungan sama londo!”

Saya cuma nyengir,

Rejekine wong dhewe-dhewe…” (Rejeki orang lain-lain).

2 thoughts on “Rejeki Londo”

  1. Ahmad Maruv Salim says:

    hahaha… patut ditiru niku :D

  2. ali habiibak says:

    akhirnya yg dr kudus disebut lg,mantaaab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *