Rejeki Kontekstual

Sebenarnya ada banyak daging di Pondok Krapyak. Entah berapa ekor kambing Mbah Ali berqurban. Yang jelas, untuk makan hari itu sama sekali tak ada kekhawatiran. Tapi kalau uang sudah terlalu kerontang, memikirkan esok hari tetap saja degdegan. Maka Mas Syafi’ Muslih, sepupu saya, mengajak salah seorang keponakannya –orangnya ada di jaringan Terong Gosong ini juga– pulang ke Rembang.

“Tapi duitnya cuma cukup sampai Semarang”, kata ponakannya.

“Gampang. Nanti kita mampir ke rumah Paklik di Magelang. Masak sih nggak dikasih sangu?”

Di Magelang, setelah sedikit ngobrol ala kadarnya, mereka pamitan.

“Mau terus pulang ke Rembang”, kata Mas Syafi’, berusaha memberi isyarat bahwa mereka butuh sangu tambahan.

“Oh… ya ya… nyangoni slamet ya, Nak… salam buat keluarga Rembang semua…”

Tak ada tanda-tanda sangu.

“Pangestunya, Paklik”.

“Amin… aminn…”

Tetap tak ada tanda-tanda sangu.

Pareeeng…”

Monggo… monggo…

Kayaknya, sangu memang tinggal harapan.

Mereka berdua melangkahi pintu, menuju pagar, menapak jalanan.

“Jangan cepat-cepat jalannya…” bisik Mas Syafi’, “siapa tahu dipanggil lagi…”

Benar saja,

“Naaak! Naak!”

Bulik tergopoh-gopoh menyusul. Tangannya menenteng bungkusan yang kelihatan menggelembung. Kedua musafir merasa luar biasa lega, tapi terheran-heran.

“Ini! Bawa ini!” Bulik mengangsurkan bungkusan.

“Terimakasih, Bulik”.

Walau bertanya-tanya, tetap saja ada rasa gembira. “Lumayan, daripada tidak sama sekali…” pikir mereka.

Bungkusan itu cukup berat. Tak berani mereka menengok isinya didepan Bulik. Takut menyinggung perasaan. Setelah rumah Paklik hilang dibalik tikungan, barulah mereka membukanya:

daging kurban!

(Akhirnya mereka jual daging kurban itu kepada seorang pemulung di terminal Semarang. Syukurlah, uangnya cukup untuk ongkos sampai ke Rembang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *