Pidato Waji


Karena dekat dengan Gus Mus, Waji jadi kelihatan sedikit lebih intelek. Dia tahu istilah-istilah ganjil yang belum pernah didengar teman-temannya, dan dia bangga akan hal itu.

Oleh karenanya Waji amat bersemangat menerima tugas berpidato pada suatu lailatul ijtima’. Dia tahu, dia akan menjadi bintang malam itu setelah hadirin menyadari betapa inteleknya dia.

“Mengancik acara selanjutnya, adalah sambutan prakata panitia, yang akan disampaikan kepada beliau yang terhormat Ketua Panitia, Bapak Waji”, Amin Si Master of Ceremony mengumumkan dengan mantap, “kepadanya waktu dan tempat dipersilahkan…”

Waji pun berjalan tegap menghampiri podium.

Setelah salam, hamdalah dan sholawat, ia memulai uraiannya,

“Pertama-tama, saya sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Saudara ADVOKAT yang telah berkenan memberikan waktu kepada saya…”

7 thoughts on “Pidato Waji”

  1. Ro Ha says:

    huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa apokat kali

  2. Ahmad Maruv Salim says:

    mlete ning ra sembodo :D

  3. cumifumi says:

    ga dong@.@

  4. fachrurozy says:

    Hahahaha…wah…Mantabbbb….

  5. alfahmi says:

    HAHAHAHA

  6. Surti says:

    Malem2 NGAKAK
    Yo opo Gus Yahya, lwucuuuu rak bar-bar

  7. purnomo says:

    suka Gus….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *