Pesan Mbah Syahid

Mbah Syahid Kemadu

Mbah Syahid Kemadu

Entah sudah berapa banyak kali aku sowan Mbah Syahid Kemadu, tidak pernah aku menyampaikan hajat tertentu kecuali empat kali. Yaitu minta “sangu” ketika hendak pergi haji pertama kali, ketika hendak kawin, ketika kendak mergawe politik ke Jakarta, dan menjelang lengsernya Presiden Abdurrahman Wahid. Selain yang empat kali itu aku sowan tanpa matur hajat apa-apa, hanya memandangi wajah beliau saja sambil nadhongi apa pun yang beliau katakan.

Ketika sakit ayahku semakin berat dan galau menimpa tak tertahankan, seperti biasa aku sowan ke Kemadu. Seperti biasa pula aku tidak matur apa-apa dan Mbah Syahid pun tidak menanyakan apa-apa. Saat itulah Mbah Syahid menuturkan kisah yang meluncur begitu saja seolah menetes dari ruang hampa, tanpa ada konteks pembicaraan yang mendahului atau melingkupi dan seolah tanpa arah yang dikehendaki.

“Aku dulu pergi haji masih naik kapal”, kata Mbah Syahid, “Alangkah besar syukurku…. wong setakat aku saja kok bisa naik haji…. Karena syukur itu, aku lalu berkhidmah pada ikan-ikan. Setiap selesai waktu makan, aku berkeliling mengumpulkan sisa-sisa makanan dari seluruh kapal untuk kuberikan kepada ikan-ikan…”, Mbah Syahid becerita sambil menerawang, mengawasi asap rokok dari sela jarinya.

“Walaupun cuma sisa-sisa, ternyata ikan-ikan itu amat menggemarinya”, Mbah Syahid melanjutkan, “bahkan tuman. Setiap aku menjulurkan kepala ke laut, belum lagi makanan kulemparkan, ikan-ikan itu sudah pating pecungul menyambutku…”

Aku merasa, hari-hari ini kisah Mbah Syahid itu menuntunku.

One thought on “Pesan Mbah Syahid”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *