Isro’ Mi’roj

Mbah Syahid Kemadu

Mbah Syahid Kemadu

Mbah Syahid gemar dan pintar membesarkan hati orang. Tidak. Bukan kata-katanya atau raut mukanya. Tapi kehadiran beliau itu sendiri secara alami membesarkan hati. Cara beliau mengucap “Al… ham… dulil… laaahh…” tak ada yang bisa niru. Itu bukan sekedar ucapan. Itu eksistensi.

Mbah Syahid amat terkenal. Maka ketika Almarhum Arifin C. Noer suatu kali berkunjung ke Rembang, ia minta Gus Mus mengantarkan ke Kemadu.

“Pengen coba-coba ketemu”, katanya.

Tapi ketika memasuki ruang tamu kediaman Mbah Syahid, Arifin tumbuh groginya. Ia tak tahu, bagaimana harus bersikap dihadapan seorang pawang agama seperti Mbah Syahid. Sedangkan ia sendiri, sebagai tukang bikin filem, sering dituduh biang maksiat oleh para pendaku agama.

“Jadi, pekerjaan panjenengan membuat filem?” Mbah Syahid bertanya.

“Iya…” Arifin menjadi-jadi groginya.

“Waaah…”, Mbah Syahid sumringah, “kalau begitu panjenengan lebih hebat dari Pak Mustofa!” Maksudnya: Gus Mus.

“Pak Mus ini sekali pidato yang mendengarkan paling banter seribu orang… panjenengan sekali bikin filem… berapa ribu yang nonton?”

Serta-merta Arifin merasa tenang. Hatinya lapang. Dan ia jadi kerasan. Hampir-hampir tak mau diajak pulang.

Sebelum ayah saya sakit, saya memperoleh undangan International Visitor Program dari Pemerintah Amerika Serikat. Itu artinya saya hendak ditraktir ngelencer sebulan disana. Saya langsung menyanggupi dan segala dokumen persyaratan pun langsung dikerjakan. Ketika ayah saya mulai sakit, semua urusan itu sudah beres, tinggal nunggu pemberangkatan yang telah dijadwalkan, yaitu awal September (2004).

23 Agustus, bertepatan dengan 7 Rajab, ayah saya meninggal. Saya tahkim paman saya untuk memutuskan, apakah jadi ke Amerika atau dibatalkan saja.

“Berangkat saja”, kata paman saya.

Tapi saya tak merasa tenang. Ayah saya baru saja meninggal. Bagaimana mungkin saya bisa ngelencer dengan nyaman?

Menujuh-hari wafatnya ayah saya, Mbah Syahid menyempatkan diri jagongan di rumah paman saya.

“Yahya ini mau tingal di Rembang”, paman saya matur, “tidak kembali ke Jakarta…”

Mbah Syahid manggut-manggut.

“Tapi sebelum itu dia mau ke Amerika dulu, sebulan”.

“Al… ham… dulil… laaahh…” Mbah Syahid seperti biasanya, “kok seperti Isro’ Mi’roj…”

(Empat hari kemudian Mbah Syahid wafat dan saya ambyar seperti porselen rengat dibanting ke jalanan. Dua hari kemudian saya berangkat ke Amerika. Entah seluruhnya, entah cuma seserpih saja…)

3 thoughts on “Isro’ Mi’roj”

  1. Bayu Wiratsongko says:

    dari foto mbah Syahid, saya yang sama sekali belum pernah ketemu, merasa tentram memandang beliau. Benar-benar membesarkan hati.

  2. Soewoeng says:

    Selamat mendapat amanat baru dados watimpres njeng kyai

  3. Soewoeng says:

    Selamat mendapat amanat baru dados watimpres njeng kyai… ingkang amanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *