Bukan Gusti Allah


Kyai Ma’mun Junaid Senori, menantu Mbah Kyai Mishbah Mustofa Bangilan rahimahumallah, terkenal ahli suwuk kambing. Suatu kali, seorang santri yang membutuhkan suwuk Kyai Ma’mun mampir sowan terlebih dahulu kepada mertua beliau, Mbah Mishbah. Ketika pamit, Mbah Mishbah bertanya,

“Mau terus kemana kamu?”

“Sowan Gus Ma’mun”

“Mau apa?”

“Biasa, Mbah, minta suwuk. Isteri saya sakit”.

“Lha sudah sampai sini kok mau ke tempat Ma’mun segala?” Mbah Mishbah menyergah, “aku ini kan mertua dan gurunya! Mestinya suwukku lebih manjur. Sini! Aku saja yang nyuwuk!”

Si Santri tak berani membantah. Sebotol air yang sudah diludahi Mbah Mishbah diterimanya dengan khusyu’.

“Kalau seminggu lagi belum ada tanda-tanda sembuh, balik kesini ya!”

“Nggih, Mbah”.

Seminggu kemudian, Si Santri benar-benar kembali.

“Bagaimana?”

“Belum ada perkembangan sama sekali, Mbah”.

Mbah Mishbah kelihatan acuh-tak-acuh,

“Sekarang kamu tahu, aku ini bukan Gusti Allah. Apalagi Ma’mun!”

4 thoughts on “Bukan Gusti Allah”

  1. Sidoel Tattid says:

    sebuah lelucon yg sangat dalam……..

  2. Jama'ah fesbukiyah says:

    Begitulah kalo seorang Kyai Linuwih…

  3. kusman bin abdussalam says:

    Gus Yahya , dalem nderek pirso nggih … Mbah Mishbah meniko kepernah nopo kaliyan panjenengan ? Wonten ndusun kulo kitab – kitab beliau banyak yang dikaji pada musholla – musholla / langgar …

    1. Subbhan a says:

      Kakek paman..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *