Mana Tahan?

Di tengah salah satu patroli malamnya, Amirul Mu’minin ‘Umar bin Khatthab mendengar seorang perempuan mendendangkan syair-syair kesepian.

“Malam sungguh panjang gelap dan sepi
Susah tidur tanpa ada yang menemani
Kalau tidak karena Allah yang aku takuti
Ranjang ini ‘kan digoyang oleh gejolak hati…”

Ternyata suami wanita itu adalah salah seorang anggota pasukan yang telah berbulan-bulan belum pulang dari medan pertempuran.

Amirul Mu’minin pun mendatangi puterinya, Sayyidatina Hafshah, Ummil Mu’minin.

“Berapa lama perempuan tahan ditinggal suaminya?” Sayyidina ‘Umar bertanya.

Malu-malu puterinya memberi isyarat dengan tangan.

Sejak saat itu, Amirul Mu’minin menetapkan larangan penugasan prajurit ke medan pertempuran lebih dari empat bulan.

One thought on “Mana Tahan?”

  1. imam says:

    jazaakallooh..aamin,matur nuwun yai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *