Semua Agama Punya Kelemahan?: Tanggapan terhadap Ulil Abshar Abdalla

Pada satu kesempatan chatting, Saudara Rumail Masror menantang saya untuk menanggapi salah satu tulisan Ulil Abshar Abdalla “Tentang situs Faithfreedom: Surat kepada seorang teman” yang dimuat di halaman blognya Ulil. Rumail Masror berharap saya membuat “sanggahan ilmiah” terhadap tulisan tersebut. Tapi, sejauh yang dapat saya pahami dari tulisan itu, saya BELUM TENTU tidak setuju.

Pengetahuan saya tak sebanyak Ulil, dan saya belum bisa menulis sebaik Ulil. Tapi dengan apa pun yang saya punya, akan saya coba memenuhi tantangan Rumail sambil meneruskan tantangan itu kepada siapa saja yang selama ini merasa berseberangan dengan Ulil Abshar Abdalla sak rombongannya. Ayo hadapi Si Ulil ini ‘ilman bi ‘ilmin, ‘aqlan bi ‘aqlin (ilmu dijawab dengan ilmu, pemikiran dijawab dengan pemikiran). Jangan cuma berani ngrasani thok sambil nuduh-nuduh tak menentu. Itu namanya pengecut, curang, goblok bin menying. Itu Ulilnya ada di fb sini. Saya yakin, kalau ada yang nantang, dia tak akan berani melarikan diri. Kalau sampai dia lari, silahkan disoraki!

Rumail terutama menunjuk pernyataan Ulil bahwa “semua agama punya kelemahan”. Untuk setuju atau tidak setuju dengan pernyataan itu, saya harus terlebih dahulu tahu, apa yang dimaksud Ulil dengan “agama” dan “kelemahan”.

Agama (Islam) punya banyak dimensi, setiap dimensi terbangun atas banyak elemen dan berkaitan dengan semua itu terdapat banyak madzhab. Rukun Iman dan Rukun Islam itu agama. Di sisi lain, hukum nikah dan thaharah (bersuci) juga agama. Yang penting dan relevan dengan maksud tulisan ini adalah pengertian bahwa dalam agama itu ada yang dlaruriy (pathok bangkrong, niscaya) ada yang iktisabiy (hasil ijtihad), ada yang qath’iy (pasti) ada yang dhanniy (dugaan), ada yang mutlak ada yang nisbi. Biasanya, semua hal itu campur-aduk di kepala kita —termasuk kepalanya Ulil— ketika kita menyebut term “agama”.

Harus ditanyakan kepada Ulil, pada sisi mana dari agama yang dia anggap terdapat “kelemahan”. Pada satu kutub, agama (Islam) min haitsu taqrir annahu laa ilaaha illa ‘Llah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh (sebagai ketetapan syahadat) mustahil mengandung kelemahan. Kalau sampai ada yang menyatakan terdapat kelemahan didalamnya, berarti kufur muthlaq! Pada kutub lain, orang bisa berdebat habis tentang, “mana yang lebih Islami antara sistem demokrasi ala Barat dan sistem kerajaan ala Arab Saudi”, tanpa boleh (haram) saling mengkafirkan didalamnya. Dengan kata lain, pada bagian agama yang muktasab (disimpulkan melalui ijtihad), Islam bukannya tidak boleh dikoreksi, bahkan —secara teoretis— mungkin saja “kurang baik” dibanding aspek tertentu dari agama lain.

“Wilayah rawan” dalam pembicaraan tentang hal ini ada pada perdebatan yang mungkin terjadi dalam menetapkan batas-batas antara yang dlaruriy dan yang iktisabiy. Menyebut Quran-Hadits sebagai yang dlaruriy dan selebihnya iktisabiy jauh dari cukup. Dua catatan Ulil paling mutakhir di fb membuat ulasan menarik tentang hal ini, “Fakhr al-Din al-Razi dalam dua model pembacaan” dan “Abu Bakr al-Asamm dan Abu al-Qasim al-Anmathi mengenai naskh”.

Catatan yang saya sebut pertama mengulas tentang “perlakuan yang layak terhadap nushush (teks-teks) Quran (dan Hadits)”, saya sepenuhnya setuju dengan stand-point Ulil —Lil, bahasa Indonesianya apa? Yang saya sebut belakangan “seolah-olah gawat”, tapi sebetulnya bukan barang baru. Sebagaimana yang tersirat dalam tulisan kedua, untuk memahami dan menerapkan Quran-Hadits, akal harus dipekerjakan. Apa yang oleh Ulil disebut “negosiasi hermeneutis” (dia arabkan dengan musawamah ta’wiliyah atau mufawadah ta’wiliyah) sudah dilakukan sejak jaman ulama shahabi. Ijtihad Umar bin Al Khaththab r.a. “menasakh” nash (teks) hadits tentang aturan ghanimah (rampasan perang). Kalaupun pendapat Abu Bakr Al Asamm dianggap gawat, saya sendiri melihatnya masih muhtamal fih (multi tafsir). Dalam komentar saya atas catatan itu, saya katakan: “kalau ada qiyas (analogi, elaborasi akal) yang bisa menasakh wahyu, dari mana muqtas minhunya (premis-premisnya)?” (Ulil belum berkomentar balik). Sepanjang masih dalam “koridor Islam”, tidak ada muqtas minhu selain wahyu juga. Maka boleh jadi —kalaupun ada— naskhul wahyi bil qiyas shurotan (bentuknya seperti mengoreksi wahyu dengan qiyas) sesungguhnya naskhul wahyi bil wahyi haqiqotan (hakikatnya mengoreksi wahyu dengan wahyu). Walhasil, diskusi tentang batas-batas ini akan sangat panjang melibatkan kepustakaan bergudang-gudang.

Selanjutnya, tentang “kelemahan”. Pertanyaan saya: apa tolok ukurnya? Ini soal epistemologis —arabnya, Lil?. Tiap kelompok punya tolok ukurnya sendiri-sendiri. Lemah di mata sosialis Amerika Latin tentu berbeda dengan lemah di mata kapitalis global. Lemah di mata aktifis hak-hak kaum homo lain dengan lemah di mata penguasa Vatikan. Dan seterusnya. Dalam hal ini, Ulil tidak terlalu gamblang menjelaskan posisinya. Posisi saya adalah bahwa kelemahan atau kekuatan itu harus diukur dari, sejauh mana sistem ajaran (iktisabiy) yang ada lebih mampu mencegah terjadinya madhlamah bainan nas (perbuatan aniaya diantara sesama manusia) dan lebih melonggarkan kesempatan bagi manusia untuk berkhidmah kepada Allah. Urutan dengan mana saya menyebut kedua hal itu bukannya arbitrer tapi mengikuti kaidah dar’ul mafasid (ar rajihah) muqaddam ‘ala jalbil mashalih (al marjuhah) (mencegah kerusakan yang lebih jelas didahulukan daripada mengejar maslahat yang kurang jelas).

Sebenarnya, yang paling menggelitik saya dari tulisan yang diperbincangkan ini adalah pernyataan Ulil, “Kalaupun saya pindah ke agama lain, situasi serupa akan saya hadapi juga. Setiap agama mengandung kelemahan, selain, tentu, kelebihan masing-masing. Kalau saya meninggalkan Islam dan memeluk agama lain, saya akan memeluk agama yang akan memiliki kelemahan serupa”. Saya hanya berharap, mudah-mudahan dengan pernyataan itu dia tidak mengimplikasikan ridla bil kufri (rela terhadap kekufuran).

One thought on “Semua Agama Punya Kelemahan?: Tanggapan terhadap Ulil Abshar Abdalla”

  1. assafanjany says:

    Sudah menjadi takdirnya orang-orang pinter, yakni membingungkan orang awam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *